Connected Partnership

Peluang bisnis Anda bersama member DEDIMMB, 081212334859, bbm 53B65632

Engine Power dan Maintenance (Sesuai Standar Lemigas No. 199/BLM/7.1/PK08)

Menjadikan kendaraan spontan bertenaga, meningkatkan performa mesin, menjadikan suara kendaraan lebih halus, dll

dengan Loket Resmi Pembayaran Online hidup jadi lebih mudah

listrik pascabayar/prabayar, pulsa hand phone, cicilan kendaraan, BPJS, TV berlangganan, tiket pesawat, dll bisa bayar di sini

Bisnis perusahaan

online media (MDS), franchising, tour dan travel, my products, merchandise, my bill dan network marketing

Tangga Anda menuju kesuksesan tak terbatas bersama PT. Mitra Media Bisnis (MMB)

Jika Anda ingin bergabung dengan kami, harap hubungi WA: 08.1212.33.4859 BBM: 53B65632. Atau Anda dapat mengunjungi website resmi di www.mymediabisnis.com

Tampilkan postingan dengan label english. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label english. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

Fatsal 4 Pertemuan Keluarga Besar





Fatsal 4 Pertemuan Keluarga Besar

Kini di sebuah ruangan yang cukup luas tepatnya tanggal tujuh April dua ribu empat belas, tiga tahun sejak kepergian Aga, tepatnya sejak menghilangnya secara misterius putra ketiga si bungsu keluarga pasangan Pak Satria dan Ibu Ningsih menjadikan mereka sangat menderita.
Kedua orang tua itu yang hanya ditemani Nandya puteri sulung, sembilan belas tahun, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, dan Kemal putera kedua yang merupakan kakak atau aa Aga, tiga belas tahun, pelajar kelas tiga belas di salah satu sekolah menengah pertama negeri di kota Depok, telah banyak melakukan upaya berbagai macam cara agar dapat menemukan si bungsu Aga adik kedua kakak-beradik tersebut, bahkan hingga saat ini.
Mereka terlihat sedang berkumpul untuk kesekian kali membicarakan segala kemungkinan agar bisa mendapatkan informasi baru atau perkembangan lain tentang keberadaan Aga. Kedua orang tua itu dan kakak-beradik duduk merenung dikelilingi seluruh om dan tante: Yudi, Andry, Dony, Joe, Aldi, dan tante Riana, Maya, Dewi dan Rani. Terdengar berbicara satu sama lain. Ada yang berkelompok empat, tiga dan dua.
“Kak Satria udeh coba dapetin info lain dari internet, mungkin ada pemberitahuan orang hilang, misalnya?” Tanya Andry yang duduk tidak jauh dari kakak iparnya memecah pembicaraan masing-masing.
“Udah, tapi emang belom ada petunjuk apapun tentang keberadaan Aga,” jawab Pak Satria agak tak bersemangat.
“Bahkan Kak Satria juga sudah coba datengin lagi ke beberapa kantor di Kota Depok…… sekedar mencari info terbaru atau mengingatkan mereka tentang laporan kehilangan tiga tahun lalu, agar terus membantu melacak keberadaannya,” paparnya lagi menjelaskan.
Suasana kembali hening sebentar lalu kembali agak gaduh karena mereka berbicara secara berkelompok membicarakan kemungkinan-kemungkinan lain sendiri-sendiri.
“Begini….adik-adik,” tiba-tiba Pak Satria mencoba meminta perhatian untuk melanjutkan kata-katanya dengan sebutan ‘adik-adik’, karena ia merupakan saudara tertua dalam pertemuan keluarga besar ini.
“Rasa-rasanya kita sudah berupaya keras agar dapat menemukan Aga kembali, bahkan sampai hari ini. Saya dan keluarga akhirnya hanya bisa pasrah dan ikhlas saja, jika ia memang akhirnya tak akan kembali, meskipun masih terus berharap dan berusaha semampu kita.”
Kata-katanya tak dapat ia lanjutkan karena terlihat wajahnya berubah sendu dan sambil berusaha tetap tegar.
“Saya juga mohon kepada seluruh saudara yang hadir di sini untuk tetap membantu mencari informasi apapun yang mengarah kepada petunjuk-petunjuk baru,” ungkapnya menambahkan.
“Baiklah….karena waktu juga sudah semakin sore, saya mohon kita menutup pertemuan kali ini dengan doa seperti biasanya untuk kesehatan dan keselamatan Aga khususnya….dan kita yang hadir di sini umumnya,” paparnya mencoba mengakhiri dan menutup pertemuan keluarga itu.
Merekapun berdoa bersama secara khidmat dan ikhlas yang saat itu dipimpin oleh Om Joe, saudara tertua kedua. Terlihat juga seluruh sepupu ada yang menitikkan air mata mengungkapkan rasa sedih yang mendalam, Irsyad, Andra, Dafa, Alya bahkan Fathan yang termuda pun akhirnya ikut terisak seolah teringat kenangan mereka dulu bersama saudaranya, Aga. Mereka akhirnya berpisah diikuti dengan rasa haru-biru yang begitu mendalam.
Tinggal mereka berempat merasa sepi kehilangan salah satu putera kesayangan mereka, si bungsu Aga. Pernah suatu kali kakaknya yang biasa dipanggil aa yang juga sedih sekali kehilangan adik, teman dan saudara muda sekandung biasa sering bermain, bercanda bersama dan berselisih itu, berujar kepada papanya, Pak Satria,
“Pah, kita jalan ke mana keq, yuk….siapa tahu bisa ketemu Aga atau ada orang yang memberitahu di mana adanya.”
“Mah, Kemal ikut ya, ke sekolah tempat mama ngajar, kali aja bisa ngeliat Aga dari jendela angkot….” Pintanya suatu kali kepada mamanya yang sedang bersiap-siap berangkat mengajar di suatu pagi.
Bahkan tidak jarang salah satu dari mereka bermimpi melihatnya sedang bermain, bercanda, duduk, berdiri atau dituntun bersama seseorang di suatu tempat keramaian atau tempat terpencil, sehingga dalam tidur atau mimpi mengigau dengan memanggil-manggil atau berteriak nama adik atau puteranya tersebut.
“Aga! Aga! Aga!! Mah, pah itu Aga di sana lagi bediri…..” teriak Kemal dalam suatu tidurnya mengigau dengan meneriak-neriakkan nama adiknya berulang-ulang.
Pak Satria dan Bu Ningsih terbangun dan membangunkan Kemal, lalu mengingatkannya bahwa ia sedang bermimpi dan mengigau. Kemudian ia menceritakan di dalam mimpinya tentang adiknya tersebut. Hal itu pun terjadi tidak saja pada Kemal, kakak sulung, Nandya yang tidak kalah besar dalam menyayangi adiknya tersebut mengalami hal serupa, termasuk mama dan papa mereka. Mimpi-mimpi melihat atau bertemu dan berbicara dengannya selalu menghantui malam-malam mereka hingga beberapa tahun terakhir. Kenangan dengan si bungsu kecil yang cerdas, cerdik, lucu dan tampan itu memang terlalu manis untuk dilupakan dan terlalu indah untuk dikenangkan.
Malam harinya sekitar pukul sembilan belas tiga puluhan terlihat Pak Satria, papa Aga, duduk termenung sendirian di ruang itu. Tepat di kursi tiga tahun lalu saat Aga memasuki dunia petualangannya pertama kali yang tak disengajanya itu. Namun, siapa yang menyangka di dunianya kini entah di mana ia telah menjadi The Chosen, Pahlawan Penyelamat di suatu kerajaan yang kini hanya diketahui dan dialami sendiri oleh Sang Pembebas di sebuah wilayah yang disebut Kerajaan Gemrilozie.





Prolog Daftar Isi Fatsal 1 Fatsal 2 Fatsal 3 Fatsal 4 Fatsal 5 Fatsal 6
Fatsal 7 Fatsal 8 Fatsal 9 Fatsal 10 Fatsal 11 Fatsal 12 Fatsal 13 Fatsal 14
Fatsal 15 Fatsal 16 Fatsal 17 Fatsal 18 Fatsal 19 Fatsal 20 Fatsal 21 Fatsal 22
Fatsal 23

Senin, 08 Juli 2013

Fatsal 5 Ruang Laboratorium Istana



Fatsal 5 Ruang Laboratorium Istana

Sementara di sebuah ruang yang cukup luas disinari cahaya lampu yang sangat terang terisi beberapa meja besi putih mengkilap dengan masing-masing sebuah monitor yang sedang menampilkan beberapa tampilan grafik dalam statistik yang terkadang bergerak naik-turun. Monitor lain terlihat sedang memantau pergerakan suatu obyek seperti kerangka manusia yang menyala pada titik-titik beberapa lokasi jaringan tubuh. Ada juga sebuah monitor yang menampilkan reaksi tubuh terhadap segala obyek di sekitarnya. Jelaslah, ruangan ini merupakan sebuah laboratorium. Setiap operatornya terus memandang setiap pergerakan dan perubahan yang terjadi. Seorang pria nampak berjalan sambil sesekali memperhatikan ke monitor yang dilaluinya dan sesekali bertanya kepada operator yang duduk di hadapannya.
“Bagaimana kondisi tubuhnya, Kapten Rayzor?” Tanyanya kepada seorang operator berseragam perwira lengkap bernama Rayzor.
“Kondisi Ksatria Aga sangat baik, Jenderal Zargi,” jawabnya tegas kepada pimpinannya yang dipanggil komandan berpangkat jenderal itu.
“Bagus. Dan tetap awasi setiap perkembangan setiap detiknya, dan terus saling berkoordinasi dengan seluruh seksi!” Tegasnya sekali lagi.
“Siap, Jenderal!” Jawab Rayzor sambil mengangguk sopan dengan sangat hormat.
Kemudian sang komandan melanjutkan pengawasannya, dengan berputar belok ke barisan meja operator pemantau lain di seberangnya, dengan sesekali bertanya untuk mendapatkan informasi sebagai bahan laporannya kepada sang rajanya nanti. Setelah tiba di ujung barisan dan bertepatan dengan awal di mana ia berpatroli tadi, lalu ia berkata lagi
“Kapten, mari ikut saya ke ruang kantorku. Ada yang ingin kubahas denganmu, Kapt. Rayzor….” Perintah sang komandan kepada bawahannya itu.
“Siap, Jenderal!” Kapt. Rayzor berdiri lalu mengikuti sang komandan dan berjalan di sampingnya sambil berbincang menuju ruang kantor Jenderal Zargi.
Jarak ruang kantor komandan dan ruang laboratorium dan pengendali agak jauh, mereka beberapa kali berputar melewati bebarapa ruang kaca berisi mesin yang sangat mutakhir lengkap dengan layar monitor. Di ruang lain yang berukuran beberapa kali lebih besar dari ukuran lainnya juga berdinding kaca nampak dari luar terlihat beberapa alat yang sepertinya dapat digunakan manusia dalam berbagai posisi, seperti posisi alat di mana manusia bisa berdiri, duduk, berbaring dan sebagainya dengan beberapa buah jenis lampu-lampu di atasnya. Alat itu pun dilengkapi dengan sebuah layar monitor dengan berbagai macam tombol di sisi kanan dan kirinya. Dari luar terlihat seorang profesor sedang melakukan beberapa pengecekan dan penyetelan alat tersebut yang terkadang berjongkok lalu kembali lagi ke layar melihat hasilnya dan begitu beberapa kali ke setiap alat yang dilaluinya. Pria tersebut mengenakan baju seragam putih terusan panjang ke bawah bak seorang tenaga ahli atau ilmuan yang telah sangat hapal melaksanakan tugasnya.
Lalu Jenderal Zargi berhenti yang diikuti Kapten Rayzor tepat di sebelah pintu masuk ruang tersebut di ujung lorong mereka berjalan. Dengan sedikit melambaikan tangan memberi sinyal kepada pria berseragam putih yang sudah agak berumur dengan botak di tengah kepalanya dan pria itu pun mengangguk dengan penuh hormat lalu mendekat dan keluar melalui pintu tersebut.
“Bagaimana kondisi alat-alat yang akan digunakan untuk Sang Ksatria nanti, Profesor?” Tanya Komandan Zargi kepada pria yang dipanggil profesor itu.
“Semua dalam kondisi prima dan siap digunakan, Jenderal!” Jawabnya kepada si atasan yang dipanggil jenderal.
“Baik, Prof. Kerja bagus dan tetap pertahankan kondisi itu hingga saatnya kita akan gunakan bagi penyempurnaan fisik dan non-fisik ksatria kita,” jelas jenderal itu kepada si profesor lagi.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke ruang kerja komandan yang berstatus jenderal tersebut dan tidak berapa lama sampailah mereka di sebuah ruang di ujung lorong yang dikawal dua orang perwira di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Begitu mereka hampir di depan pintu, serentak kedua pengawal itu menegakkan badan dan memberi hormat kepada kedua atasannya dan langsung membukakan pintu agar mereka dapat masuk ke ruangan tersebut.
“Silakan duduk, Kapten,” perintahnya kepada Kapten Rayzor.
“Terima kasih, Jenderal,” sahutnya.
Mereka berdua terdengar serius membicarakan tentang petunjuk pelaksanaan setiap program kerja yang sudah sangat matang direncanakan. Sesekali sang kapten melontarkan pertanyaan yang dijawab oleh atasannya dengan merujuk ke sebuah monitor yang sangat besar menampilkan garis-garis diagram perintah dan komando, lalu mayor pun mengangguk sebagai tanda pemahamannya. Kemudiaan sang jenderal membuka sebuah buku berlipat dari dalam laci meja kerjanya dan melebarkan setiap lipatannya tersebut di atas meja sehingga sekarang membentuk seperti sebuah peta sambil menunjuk ke sebuah titik, lalu jenderal tersebut menjelaskan kembali rincian-rincian secara mendalam.
“Berdasarkan genealogi, struktur tubuh sang Ksatria Aga memang yang paling ideal, baik itu secara fisik maupun psikis. Alat monitor kendali jarak jauh kita telah membuat deskripsi lengkap dan terpadu, dan ia memiliki lebih banyak kelebihan yang dapat menyesuaikan terhadap fungsionalitas alat terpadu tersebut,” papar komandan lebih jauh.
“Lalu bagaimana dengan prosentase kegagalan yang mungkin kita akan alami, Jenderal?” Tanya kapten itu lagi.
“Berdasarkan hasil penelaahan terakhir dari satelit Morphaneous yang berhasil mendeteksi dan menembus di kehidupan alam dunia mereka, ciri-ciri dan karakteristik Ksatria itu sudah dapat menyerap setiap bagian elemen dasar yang akan melengkapinya. Sehingga hasilnya akan lebih maksimal dan kemungkinan terhadap kegagalan relatif sangat kecil. Di samping itu, segera persiapkan Plan B tentang sistem pemutakhiran bila terjadi malfungsi. Bagaimana, sudah dapat Anda pahami, Kapten?”
“Sangat jelas, Jenderal,” tukasnya lagi.
“Bagus. Koordinasikan hal ini kepada seluruh Tim Pasukan Khusus Kerajaan kita akan melakukannya dalam beberapa waktu setelah saya beri komando. Sekarang boleh lanjutkan tugas Anda kembali.” Perintah komandan setelah mengetahui bawahannya mengerti.
“Siap, Jenderal. Laksanakan dan kembali ke tempat tugas.”
Setelah kapten memberi hormat dan memohon ijin keluar dan meninggalkan ruangan. Komandan itu meneruskan pekerjaannya beberapa saat dan segera melanjutkan inspeksinya ke ruangan-ruangan berikutnya. Karena, bagaimana pun tanggung jawab keselamatan kerajaan berada di pundaknya sebagaimana mandat yang telah ditetapkan oleh raja mereka.

Minggu, 07 Juli 2013

Fatsal 3 Perjalanan Aga ke Dunia Baru



Fatsal 3 Perjalanan Aga ke Dunia Baru

Sebentar kuperhatikan kejadian tiga hari lalu dan posisi dudukku semakin kumantapkan lagi dengan kedua tanganku kutaruh di atas tangan kursi. Teringat aku dengan benda itu, putih lembut dan terasa sejuk di tangan. Kini semakin kuingat di mana kusimpan dan kuletakkan dan pikiranku mengarahkan mataku ke sudut bawah meja ini.
“Ya….waktu itu tanganku seperti digerakkan ke arah itu,” begitu pikirku dalam hati.
“Bagaimana kalau kucoba lihat dan tengok lagi, ya? Apa masih ada di sana? Atau jangan-jangan sudah ada yang melihat dan mengambilnya? Juga jangan-jangan ia malah pergi sendiri, tapi ‘kan ia tidak punya kaki?” Tanyaku sendiri dalam hati
“Aku harus mengetahuinya sekarang juga,” gumamku memaksa mendapatkan semua jawaban sesegera mungkin.
Aku masih yakin benda itu masih ada di sana karena kurasakan ia begitu ramah dan bersahabat padaku waktu itu. Lalu kusingkirkan tumpukan buku dan CD case papa, kujulurkan tanganku yang kecil ini dengan merogoh dan meraba di celah sudut ia tersimpan.
Kini rasa dingin dan sejuk kembali kurasakan saat ujung jemariku menyentuh benda yang telah kukenali itu. Lalu kuangkat dan sedikit kugenggam salah satu ujungnya agar tidak terlepas. Kulihat ia berkilau putih di kegelapan ruang kecil bawah meja dan kubawa duduk.
“Tidak ada yang berubah dan masih tetap sama seperti tiga hari lalu,” pikirku beberapa saat sambil duduk dan kutimang-timang di tanganku.
Tombol-tombol kecil terasa bergerigi di telapakku tidak ada reaksi.
“Untuk apa ya tombol-tombol ini? Lalu, bagaimana kalau aku pencet salah satunya?” Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba memberondong pikiranku.
“Kenapa aku tidak coba mencari tahu? Aku ‘kan perlu tahu, mana tahu ini adalah mainan yang asyik dan luar biasa yang papa sesungguhnya sudah ketahui sebelumnya?” Kilahku lagi dalam hati sambil mengingat-ingat papa yang bisa sangat serius menghabiskan waktunya siang atau malam bila berada di depan komputernya.
“Jangan-jangan papa lupa memberitahu punya game baru atau malah sebuah kejutan untukku!” Begitu dugaanku kali ini.
Aku memang termasuk anak kecil yang agak beda dalam beberapa hal tidak seperti anak-anak lainnya seusiaku. Kata papa atau mama aku sering langsung menanyakan banyak hal yang tidak kuketahui, berbagai macam pertanyaan seringnya kutanyakan kepada papaku karena kuperhatikan hanya ia yang paling sabar dan tenang menjawab segala pertanyaan keingintahuanku itu. Menurutku sering jawaban-jawabannya memuaskan dahaga semua keingintahuanku. Ia juga sering menjawab singkat, tapi terkadang dengan paparan bahasa yang jelas kumengerti, pilihan kata-kata disampaikan begitu lancar oleh papa dan disesuaikan berdasarkan konteks dan timing saat itu. Meskipun terkadang banyak juga kosakata yang baru kudengar dan belum kumengerti, mungkin papa secara tidak langsung ingin aku mendengarnya terlebih dahulu. Melihat aku agak bingung memahaminya, papa cukup sigap menanggapinya dengan mencari padanan kata lain yang dapat kumengerti, sehingga bertambah banyaklah perbendaharaan kosakataku dan aku tidak ragu menggunakan kata-kata kutipan sebagian dari papaku itu.
“Aga bagus tuh….sering banyak tanya, dan itu tandanya kamu itu cerdas,” simpul papa setelah selesai menjelaskan pertanyaan-pertanyaanku. Aku seringnya sih menjadi diam coba menyimak semampuku. Karena ada juga kudengar papa memberikan rangkaian kata-kata yang jauh lebih asing lagi di telingaku dan jelas masih belum kupahami sebelum diberi cerita penjelasan. Orang-orang dewasa bilang sih itu ungkapan-ungkapan motivasi.
“Cuma sayangnya Aga belom bisa baca sih…. Belajar baca juga dong, Ga, sebagai selingan menggambar. Kamu emang enggak mau bisa membaca sendiri judul film kartun Naruto, Power Rangers SPD, Ben 10 atau Upin & Ipin?” Begitu biasanya ia mengomentariku yang diakhiri dengan pertanyaan atau anjuran buatku.
Benda di tanganku kini mulai bergerak-gerak perlahan, seolah menggeliat di tengah telapak kiriku dan menyadarkanku dari lamunan. Tentu saja itu menghentikan ingatanku tentang papa.
Kuberanikan diri memencet tombol yang agak besar dengan telunjuk kiriku.
“Hah?!” Sedikit aku terkesiap dan kaget ditambah rasa keingintahuanku apa yang akan terjadi. Perlahan warna-warni yang telah kukenal tiga hari yang lalu keluar, ada biru, kuning, merah membentuk cahaya berpendar yang indah di tanganku. Kudiamkan saja sebentar sambil kuamat-amati dan kunikmati rona sinarnya, tidak terlalu terang memang. Tapi cukup bagus dan indah paduannya. Telunjukku kugerakkan lagi berpindah menekan tombol lain yang lebih kecil di dekatnya.
Terdengar gesekan ujung jariku begitu menekan tombol kecil itu.
“Srrrett”
“Ahh!”
Aku menjadi sedikit melenguh tertahan masih khawatir suaraku kali ini terdengar oleh salah satu keluarga.
Tiba-tiba CPU dan monitor menyala tanpa aku sentuh apapun di sana! Aku kaget sekali karena aku benar-benar tidak menekan atau memencet tombol power keduanya. Setelah muncul tampilan awalnya satu-persatu secara otomatis, aku dikejutkan lagi dengan munculnya cahaya lain dari sudut dekat aku duduk di hadapan komputerku. Cahaya itu persis seperti tiga hari lalu kulihat tidak lebih dan kurang ukuran dan bentuknya, persis sama.
“Malam mini aku harus tahu ada apa dengan kedua benda ini: satu di telapak kananku dan satunya lagi lorong cahaya di sebelah kiriku ini! Ditambah komputer ini bisa hidup sendiri……?” Begitu aneh pikirku.
Saat ini aku sudah tak sabar lagi ingin rasanya kuketahui semua ini dan memberanikan diri tak peduli sekecil atau semuda apapun diriku.
“Aku harus tahu dengan semua ini! Kenapa aku yang harus mengalaminya? Kenapa tidak aa saja atau papa atau mama atau kakak……..? Kenapa aku?” Pertanyaan-pertanyaan ini menderu sehingga aku bertekad bulat dalam hati dan yakin.
Kucoba dekati lorong cahaya dan kuarahkan telunjuk kiriku untuk menyentuhnya. Aku sampai lupa tadi dengan saran papa yang seharusnya kugunakan dan kubiasakan tangan kananku seperti yang selalu diajarkannya, tapi karena kecenderunganku terasa lebih dominan pada tangan kiriku dalam memulai aktifitasku. Kata papa, mama atau orang-orang bilang aku ini kidal. Kini sudah separuh telunjukku menembus sisi cahaya itu tidak terjadi apa-apa. Terus kusorongkan lagi tanganku hingga masuk pergelangan ke dalam, juga tidak ada apa-apa. Tak ada suara atas aksiku ini, bahkan tidak ada bias cahaya karena sinarnya telah kutembus dengan tanganku. Kutarik kembali tanganku. Aku menjadi semakin berani saja, lalu kusodorkan kaki kananku hingga masuk seluruh telapaknya.
“Ah, aman….. tidak ada apa-apa, Aga enggak kenapa-kenapa koq,” bisikku meyakinkan diriku dalam hati.
Setelah yakin dan mantap semua perkiraanku terhadap segala kemungkinan, aku sorongkan seluruh badanku perlahan mulai dari kepala, leher, badanku bagian atas hingga kakiku ke dalam lorong cahaya ini. Dan…..ups! Kini aku sudah berada di dalam lorong ini. Sementara benda kecil itu masih berada dalam genggamanku. Ia kini kurasakan bergetar di sana secara otomatis. Setelah kubuka tanganku, benar saja benda kecil mirip pemantik api dari gas yang berbentuk bulat memanjang itu berkedip-kedip pada lampu indikatornya. Sebentar kuperhatikan mencari tahu apa selanjutnya yang harus kulakukan. Tangan kananku kugoyang-goyang mungkin ada reaksi tertentu, tapi tidak terjadi reaksi apapun. Tombol-tombol itu kembali menarik perhatianku untuk memencetnya. Kuberanikan diriku memencet salah satu yang berada di bawah indikator yang sedang berkedip-kedip dan aku seketika merasakan seperti ada tarikan ke arah bawah tubuhku secara perlahan diiringi desiran angin dan tekanan halus dari arah atas. Tanpa kusadari kecepatan tarikan dan tekanan halus di tubuhku mulai terasa lebih kuat sementara pandanganku masih tertuju pada obyek yang terakhir kusebut XPR, karena begitulah kira-kira kueja satu-persatu hurup yang tertulis di permukaannya. Lalu kualihkan pandanganku ke sekelilingku pada dinding lingkaran cahaya yang membentuk lorong ini terasa seperti bergerak turun dengan kecepatan yang sangat dahsyat. Ini jelas membuatku amat terkejut dan mulai dihinggapi kecemasan dan ketakutan yang luar biasa sehingga aku berteriak dan menjerit.
“Mamaaaaa! Papaaaaa!!!” Jeritku sejadi-jadinya.
Tak bisa kulukiskan ketakutanku ini, aku merasa seperti terbawa dan terhisap cahaya ini, sendirian, meskipun kejadian ini sama sekali tidak mempengaruhi keseimbangan tubuhku. Aku masih tetap berdiri dengan tegak seolah tak terjadi apa-apa di sekelilingku. Namun ketakutan dan kecemasan yang begitu sangat menghantui diriku semakin menjadi-jadi. Ingatanku kembali ke papa dan mama di kamarku. Kuingin keluar dan kembali ke kamar itu lagi bersama mereka. Kuraba-raba dinding di hadapanku terasa begitu kaku dan padat dan tak bisa kutembus seperti tadi! Aku terkejut! Aku tak bisa keluar. Ini sudah membuatku sangat panik….menangis. Kuberalih ke dinding sebelah kananku dan kucoba terobos keluar tapi nihil! Dan ini membuatku histeris. Tangisanku pun terasa semakin keras – aku takut sekali!!! Masih kuberharap ada jalan keluar bagi diriku, dinding cahaya sebelah kiriku merupakan pintu itu, lalu kusentuh dan kuraba beberapa kali. Dengan kecemasan yang kian bertambah teramat sangat, tapi tetap nihil! Aku semakin ketakutan dan mulai menjerit dan berteriak lagi tanpa dapat kutahan luapan perasaanku ini.
“Bukaaaaa! Mamaaaa….!! Papaaaa!!! Tolongin Aga, papaaaaa!” Jeritku terus-menerus sambil menangis, namun tak ada siapapun yang terlihat mendengar dan datang menghampiri dan menolongku.
Aku terus menangis semakin keras dan terduduk lemas di sini. Sekelilingku terasa membisu dan tiba-tiba…
“Srrrrpp…”
Lenyaplah selubung cahaya di sekelilingku dan sekaligus mulai lenyap juga rasa ketakutanku dan kini mulai berganti dengan rasa takjub melihat sebuah pemandangan di hadapanku yang sungguh-sungguh belum pernah kusaksikan sebelumnya. Meskipun ini bukan tempat sebelumnya aku berasal. Bukan, ini bukan ruang kerja papa tadi. Pemandangan inilah yang membuat segenap ketakutan dan kecemasan baru saja kualami, meskipun aku tak tahu lagi entah berada di mana, dan itu kini terhapuskan sudah, kecuali XPR yang masih tetap dalam genggamanku.
Merasa nikmatnya mataku dimanjakan dengan ketakjuban di setiap penjuru kumemandang, segala rasa takut, cemas atau khawatir terhadap kesendirian ini sirna sudah. Sebaliknya, kini aku seperti tak lepas dan bosan mata memandang ke sekelilingku dan tak ingin kuingat lagi mereka di kamar itu dan tak ingin kuberbagi yang kualami kini dengan siapapun.
“Wuihhh. Hebat!” Gumamku sendirian.


Prolog Daftar Isi Fatsal 1 Fatsal 2 Fatsal 3 Fatsal 4 Fatsal 5 Fatsal 6
Fatsal 7 Fatsal 8 Fatsal 9 Fatsal 10 Fatsal 11 Fatsal 12 Fatsal 13 Fatsal 14
Fatsal 15 Fatsal 16 Fatsal 17 Fatsal 18 Fatsal 19 Fatsal 20 Fatsal 21 Fatsal 22
Fatsal 23