Connected Partnership

Peluang bisnis Anda bersama member DEDIMMB, 081212334859, bbm 53B65632

Engine Power dan Maintenance (Sesuai Standar Lemigas No. 199/BLM/7.1/PK08)

Menjadikan kendaraan spontan bertenaga, meningkatkan performa mesin, menjadikan suara kendaraan lebih halus, dll

dengan Loket Resmi Pembayaran Online hidup jadi lebih mudah

listrik pascabayar/prabayar, pulsa hand phone, cicilan kendaraan, BPJS, TV berlangganan, tiket pesawat, dll bisa bayar di sini

Bisnis perusahaan

online media (MDS), franchising, tour dan travel, my products, merchandise, my bill dan network marketing

Tangga Anda menuju kesuksesan tak terbatas bersama PT. Mitra Media Bisnis (MMB)

Jika Anda ingin bergabung dengan kami, harap hubungi WA: 08.1212.33.4859 BBM: 53B65632. Atau Anda dapat mengunjungi website resmi di www.mymediabisnis.com

Kamis, 11 Juli 2013

Text Messaging Language (A-C)




Text Messaging Languag

Do you need to tell something to someone in short sentences through instant messaging, such as a short message service (SMS) ? Need to tell briefly? Need not much time to typing? Need to hurry?

Well, you must need abbreviations which is publicly known then. Use the following list below and save more time to communicate with it.


List of Text Messaging Language (A-C)


Abbreviation

Numbers & Character
English
Indonesian
? I have a question Saya mau tanya.
? I don't understand what you mean Saya tidak paham maksudmu
@TEOTD At the end of the day Kiamat
.02 My (or your) two cents worth Dua sen saya (kamu) yang berharga
143 I love you Aku mencintaimu
19    Zero hand (online gaming) Zero hand (permainan online)
20 Meaning 'location' Berarti 'lokasi'
2G2BT Too good to be true Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan
2MI    Too much information Terlalu banyak keterangan
404    I don't know Saya tidak tahu
411    Meaning 'information' Berarti 'keterangan'
420     Let's get high Mari kita bersenang-senang
420     Meaning "Marijuana" Berarti 'Ganja'
4COL     For crying out loud Karena menangis tersedu-sedu
4EAE     Forever and ever Selama-lamanya
4NR     Foreigner Orang asing
^5     High-five Lambaian tangan tinggi-tinggi
555     Sobbing, crying. (Mandarin Chinese txt msgs) Sesenggukan, menangis (Pesan teks Mandarin Cina)
55555    Crying your eyes out (Mandarin Chinese txt msgs) Menangis bercucuran air mata (Pesan teks Mandarin Cina)
88     Bye-bye (Mandarin Chinese txt msgs) Dah (Pesan teks Mandarin Cina)
9     Parent is watching Orang tua tengah memperhatikan
A

A3     Anytime, anywhere, anyplace Kapan saja, ke mana saja, di mana saja
AAF     As a matter of fact Sebagai bukti
AAK     Asleep at keyboard Tertidur di papan tut
AAMOF     As a matter of fact Sebagai bukti
AAMOI     As a matter of interest Demi sebuah kepentingan
AAP     Always a pleasure Selalu dengan senang hati
AAR     At any rate Dengan nilai berapa pun
AAS     Alive and smiling Hidup dan tersenyum
ACD     ALT / CONTROL / DELETE GANTI / KENDALI / HAPUS
ACK     Acknowledge Mengakui, menyatakan, menjawab, membenarkan
ADD     Address Alamat
ADN     Any day now Hari apapun sekarang
ADR     Address Alamat
AEAP     As early as possible Sesegera mungkin
AFAIK     As far as I know Sejauh saya ketahui
AFK     Away from keyboard Jauh dari papan tuts
AFPOE     A fresh pair of eyes Sepasang mata yang segar
AIGHT     Alright Baiklah
AISB     As it should be Seperti sudah seharusnya
AISI     As I see it Seperti yang saya pahami
AKA     Also known as Juga dikenal dengan
ALCON     All concerned Semua pihak
AML     All my love Segenap cintaku
AOTA     All of the above Seluruhnya di atas
ASAP     As soon as possible Segera mungkin
A/S/L     Age/sex/location Usia/kelamin/lokasi
ASL     Age/sex/location Usia/kelamin/lokasi
ASLA     Age/sex/location/availability Usia/kelamin/lokasi/kesediaan
AT     At your terminal Pada terminal Anda
ATM     At the moment Pada saat ini
ATSITS     All the stars in the sky Seluruh gumintang di langit
ATSL     Along the same line (or lines) Sepanjang baris yang sama (atau garis)
AWC     After awhile crocodile Setelah beberapa saat buaya
AWOL     Away without leaving Pergi tanpa jejak
AYEC     At your earliest convenience Di saat Anda merasa nyaman
AYOR     At your own risk Resiko ditanggung sendiri
AYSOS     Are you stupid or something Kamu bodoh atau apa?
AYTMTB     And you're telling me this because Dan kau ceritakan ini padaku karena
B   
B/F     Boyfriend Kekasih/pacar
B4     Before Sebelum
B4N     Bye for now Sampai di sini dulu ya
BAK     Back at keyboard Sudah di belakang papan tuts
BAS     Big 'butt' smile Senyum merekah
BAU     Business as usual Bisnis seperti biasa
BB     Be back Kembalilah
BBIAF     Be back in a few Akan kembali sebentar lagi
BBIAM     Be back in a minute Akan kembali sebentar lagi
BBIAS     Be back in a sec Akan kembali sebentar lagi
BBL     Be back later Akan kembali lagi nanti
BBN     Bye, bye now Dag-dag
BBS     Be back soon Akan kembali segera
BBT     Be back tomorrow Akan kembali lagi besok
BC     Because Sebab
BCNU     Be seeing you Berjumpa denganmu
BCOS     Because Sebab
BD     Big deal Masalah besar
BDN     Big darn number Jumlah yang banyak sekali
BEN     Big evil grin Senyum lebar menyeringai
BF     Boyfriend Kekasih/pacar
BF     Best friend Teman paling akrab
BFF     Best friends forever Teman paling akrab selamanya
BFD     Big freaking deal Masalah besar yang aneh
BFG     Big freaking grin Senyuman menyeringai yang aneh
BFN     Bye for now Udahan dulu sekarang ya
BG     Big grin Seringai lebar
BGWM     Be gentle with me Sopanlah dengan saya
BIBO     Beer in, beer out Pesta minum-minuman (?)
BIF     Before I forget Sebelum saya lupa
BION     Believe it or not Percaya atau tidak
BIOYN     Blow it out your nose Menyingsingkan ingus
BLNT     Better luck next time Lebih mujur di lain waktu
BM&Y     Between me and you Antara aku dan kamu
BOL     Best of luck Untung terus
BOOMS     Bored out of my skull Jenuh tak terkira
BPLM     Big person little mind Orang besar berpikiran kecil
BRB     Be right back Akan segera kembali
BRT     Be right there Akan segera hadir
BTA     But then again Namun diulangi lagi
BTDT     Been there, done that Begitu datang, semua beres
BTW     By the way Ngomong-ngomong
BWL     Bursting with laughter Mulai tertawa terpingkal-pingkal
BYOB     Bring your own beer Bawa minuman sendiri
BYOC     Bring your own computer Bawa komputer (alat tulis) sendiri
C
C&G    Chuckle & grin Tertawa dan tersenyum
CICO     Coffee in, coffee out Nongkrong sambil minum kopi (?)
CID     Crying in disgrace Menangis karena terhina
CMAP     Cover my a** partner (online gaming) Lindungi mitraku (permainan online)
CMIIW     Correct me if I'm wrong Perbaiki jika saya salah
CMON     Come on Ayolah
CNP     Continued (in) next post Dilanjutkan pada edisi depan
COB     Close of business Masalah serius
COS     Because Sebab
C/P     Cross post Beda pendapat
CP     Chat post (or continue in IM) Lanjut mengobrol (atau lanjut di IM)
CR8     Create Menciptakan/membuat
CRB     Come right back Akan segera kembali lagi
CRBT     Crying really big tears Menangis tersedu-sedu
CRS     Can't remember stuff Tidak ingat apapun
CSG     Chuckle, snicker, grin Tertawa, mengikik, seringai
CTC     Care to chat? Bersedia mengobrol?
CU     See you too Sampai jumpa lagi
CU     See you Sampai jumpa
CU2     See you Sampai jumpa
CUA    See you around Sampai jumpa nanti
CUL     See you later Sampai jumpa nanti
CULA     See you later alligator Sampai jumpa nanti buaya
CUL8R     See you later Sampai jumpa nanti
CWYL     Chat with you later Mengobrol lagi denganmu nanti
CYA     See you Sampai jumpa
CYAL8R     See you later Sampai jumpa nanti
CYO     See you online Sampai jumpa di internet


Interested? There will be another list of the above alphabetically to go. So, keep in touch with this page and come back soon. HAND (Have a nice day).

What do you think about the above? If this is nice page, please feel free to refer to someone you know and I will much apprecite it.

A-C   D-F   G-I   J-L   M-O   P-R   S-U   V-X   Y-Z

Selasa, 09 Juli 2013

PT. DWIPAHASTA UTAMADUTA: About





PT. DWIPAHASTA UTAMADUTA
Stevedoring Company Since 1989
We serve you better
Grha PUL, Jl. Yos Sudarso 45-47 Tanjung Priok, Jakarta 14310 
Telp. 021-435 9676, 435 9677, 435 7464, 4393 6050
Fax. 021-435 7460



Keeping goods in perfect conditions from the time ships arrive at destination ports.

The company is strategically located in Tanjung Priok, Indonesia’s main gate, and it has facilities, such as exclusive pier warehouses, backup heavy machinery, supported by its professional working system.

The result of our work and professionalism can be seen from the ISO 9001 : 2008 and OHSAS 18001 : 2007 certificate.


Senin, 08 Juli 2013

Fatsal 23 You Say Goodbye I Say Hello



Fatsal 23 You Say Goodbye I Say Hello

            Suasana sangat meriah di kabin ruang rahasia bawah tanah istana Kerajaan Gemrilozie. Ruangan yang sangat luas dihiasi berbagai ornamen dari kain halus warna-warni cerah. Kain-kain disimpul pada dinding-dinding dan langit-langit yang dibiarkan turun menjuntai pada ujungnya. Bunga-bungaan pada pepohonan bonsai diletakkan dalam pot-pot keramik berukur dan berief indah di sudut-sudut dan muka panggung singgasana kursi-kursi raja. Panggung siinggasana itu hanya berlantaikan papan kayu yang dilapisi karpet tak seberapa tebal. Hanya panji-panji setiap kerajaan berjajar di belakang kursi raja yang menjadikannya Nampak megah dan agung. Air mancur mengitari sebuah sebuah obor besar bergemericik menumpahkan air ke dalam kolam di muka panggung. Di tengah kolam, Sembilan patung rakyat bersimpuh menengadahkan sebuah guci kosong. Mereka mengitari sebuah patung raja sedang berjongkok menggendong tempayan besar dan menuangkan isinya ke dalam sebuah guci salah satu patung rakyat itu. Di sekeliling kolam terhampar permadani tebal nan halus menutupi lantai hingga ke tepian.
            Para pembesar dan punggawa istana kerajaan telah berdiri, berbaris dan berjajar di sebelah kanan menghadap ke jajaran dan barisan para pembesar dan punggawa lain. Mereka dibatasi dengan sebuah jalan masuk yang cukup luas bagi iring-iringan Ksatria Aga dan ketiga ksatria pengiring serta mantan Raja Tucapenbath, Ansiabia Kejnat.
            Ketika aku dan rombongan memasuki lorong itu, para raja yang tengah duduk menanti di kursi mereka masing-masing serentak berdiri hormat dan bertepuk tangan. Para pembesar dan punggawa pun ikut bertepuk tangan menambah kesemarakan dan kegembiraan senyuman di wajah mereka.
            Kami berhenti sejenak tatkala tepuk tangan itu berhenti dan tiba di depan kolam air mancur, lalu membungkuk menghaturkan penghormatan kepada para paduka raja, lalu bangkit. Aku maju beberapa langkah dan memberikan salam penghormatan sekali lagi dan mulai membuka salamku.
            “Ampun paduka raja semua, izinkanlah hamba mewakili para ksatria dan mantan Raja Tucapenbath, Paduka Ansiabia Kejnat, menyampaikan laporan.”
            “Permohonan engkau diterima, wahai Ksatria Pembebas…….dan lanjutkan,” jawab Raja Aribi Dilwiba yang berdiri di pusat singgasana mewakili para raja yang ada di sana.
            “Seperti yang Paduka dan segenap raja-raja dan para hadirin di sini turut menyaksikan melalui tayangan langsung, kami kira kami telah melengkapi tugas dan misi ini. Saat ini bersama kami turut serta Paduka Ansiabia Kejnat yang juga nanti hendak menyampaikan sesuatu di hadapan Paduka Raja Aribi Dilwiba dan segenap raja-raja yang mulia dan pembesar istana,” lanjutku memberi laporan dengan suara tenang dan sopan.
            “Aku dan segenap raja-raja mengucapkan selamat kepada engkau dan ketiga ksatria atas keberhasilan yang gemilang melaksanakan tugas dan misi tersebut. Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, bahwa ini bukan kemenangan atas peperangan antarkerajaan semata, tidak juga atas pertempuran itu. Terlebih dari itu, ini adalah kemenangan atas sebuah kebenaran melawan kelaliman. Kelaliman setiap manusia yang bisa saja terdapat pada manusia, diri kita. Dan……” sejenak ia mengembangkan senyum ramah lalu melanjutkan lagi. “Kemenangan yang paling besar dan mulia sesungguhnya telah diraih oleh kedua belah pihak, saudara-saudaraku,…….. yaitu para ksatria dan Raja Ansiabia Kejnat.”
            “Oleh karena itu, aku Raja Aribi Dilwiba dan raja-raja dari seluruh kawasan kerajaan di alam ini menganugerahkan dan mengukuhkan masing-masing kepada para tamu kehormatan, yaitu Ksatria Aga dan ketiga pengiringnya sebagai satu-kesatuan: The Chosen, Ksatria Penyelamat dan Pembebas; selanjutnya kepada Paduka Ansiabia Kejnat sebuah nama baru untuk beliau,” katanya sambil tersenyum menatapnya akrab.
            Seluruh hadirin pun kembali bertepuk tangan lebih riuh seolah-olah hendak menumpahkan semua kebahagiaan mereka karena tak ada dendam sedikit pun yang mereka rasakan saat ini kepada mantan raja itu.
            “Keputusan beliau untuk turun tahta setelah kejadian itu semula memang kami sangat sayangkan, namun kami sangat menghargai dan menghormati keputusan beliau yang sangat agung. Akhirnya, kami mengerti bahwa keputusan itu merupakan cerminan jiwa besar dan dan akan selalu menjadi kebesaran beliau,” sampai di sini ia berhenti berkata sejenak dan tepuk tangan pun kembali bergema.
            Sesaat setelah suasana kembali tenang, ia melanjutkan, “Kesepakatan ini bukan tanpa dasar dan alasan, nama itu bagi kita menjadi sebuah titik awal sejarah kemenangan beliau. Pun nama itu dapat dijadikan sebagai momen untuk melupakan dan menghapuskan citra buruk beliau di masa lalu, sekaligus sebagai bentuk rasa simpatik dan penghormatan tertinggi. Dan kami para raja telah sepakat dengan nama baru tersebut bagi beliau…….” sang raja sempat mengalihkan pandangan kepada rekan-rekan raja satu-persatu yang berdiri di barisan belakangnya sambil tersenyum meminta konfirmasi, dan mereka pun serentak mengangguk.
            “RASYUGUSTI PUTRAJIHANSA……” ucapnya dengan nada tenang tapi pasti.
            Kembali tepuk tangan gembira dan bahagia bergema dengan riuh-rendahnya.
            “Nama tersebut bermakna Rasa Syukur kepada Gusti Tuhan Yang Maha Esa Puja serta Pujinya Sembahan Manusia,” jelasnya.
            Kemudian tepuk tangan para hadirin pun seolah-olah tidak pernah bosan dan henti-hentinya menyambut hari kemenangan besar mereka semua.
“Sekali lagi ucapan beribu-ribu terima kasih khususnya kepada Ksatria Aga, The Chosen, dan ketiga ksatria; Ksatria Satria, Ksatria Kemal dan Ksatria Nandya sebagai pengiring  sebagai Ksatria Penyelamat dan Pembebas atas segala jasa-jasa yang engkau persembahkan kepada kami di alam ini. Dan……sampaikan salam hormat dan takzim dan perdamaian selalu dari kami kepada segenap umat manusia di bumi para ksatria tinggal,” tutup sang raja dengan beberapa tetes airmata kesedihan dan keharuan yang mendalam.
Ungkapan terakhir sang raja tentu saja membuat seluruh raja-raja dan para pembesar dan punggawa ikut meneteskan airmata kepiluan. Akhirnya mereka baru menyadari bahwa mereka akan berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai dan sangat banggakan itu.
Aku pun menjadi ikut tersedak dengan perpisahan ini. Aku kembali teringat saat pertama-tama aku tiba di ala mini dan segala keanehan dan kebingunganku hingga pertemuanku dengan sang profesor, para asisten dan sang jenderal serta anak-anak buahnya yang sangat mengesankan diriku. Kulihat ketiga mitraku yang tidak lain adalah papa dan kakak-kakakku pun ikut merasakan haru dan menitikkan airmata, sedih.
Kesedihan dan kepiluan itu pun masih terus bergelayut di hati kami masing-masing saat Rasyugusti Putrajihansa yang tidak lain dan tidak bukan, mantan Raja Tucapenbath, tengah menyampaikan salam dan permohonan maaf dan ampunan atas segala kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya kepada para raja dan seluruh rakyat kerajaan masing-masing secara langsung kepada mereka, serta keinginannya menjadi hamba kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat manusia.
            Ia pun menyampaikan ucapan terima kasihnya, karena telah menerima anugerah berupa nama yang sangat indah sebagai penghormatan kepada dirinya. Dan ia pun akhirnya menutup sambutannya dengan mengucapkan terima kasih yang istimewa kepadaku dan ketiga mitraku. Menurutnya kami bukan hanya sebagai Ksatria Penyelamat dan Pembebas, The Chosen, tapi juga merupakan para Pahlawan Kebenaran dan Keadilan. Kulihat ia menangis terisak, menahan gejolak keharuan dan kesedihan yang sangat jelas terpancar dari jiwanya.
            Aku merasa terkesan sekali dengan sambutan Rasyugusti Putrajihansa yang begitu legowo pemunculannya di hadapan para raja-raja, yang notabene pernah ia jadikan tawanan dan tahanan. Tak sedikit pun kata-katanya menampakkan kesombongan atau keangkuhan yang dulu menempel erat pada dirinya. Bahkan tak secuil pun, sikap dan perilaku kebengisan dan kelalimannya terlihat lagi pada dirinya kini bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya; ia akan langsung menyiksa atau membinasakan orang yang membuatnya merasa rendah atau tersaingi. Saat itu, tidak ada dan tidak boleh siapa pun berlaku salah atau lalai sedikit pun di mata dirinya. Dalam penutup kata-katanya, ia berpesan pada kami bahwa ia merupakan contoh nyata atas kebenaran dan keadilan yang akan selalu mengalahkan kelaliman.
            Akhirnya, waktu yang diberikan kepada kami pun tiba di penghujung acara untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku didampingi Ksatria Satria, Ksatria Kemal, dan Ksatria Nandya mengatakan bahwa seperti yang mereka ketahui merupakan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bapak dan anak-anak. Berkat kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan merekalah kami mampu membantu apa yang mereka butuhkan. Aku tegaskan lagi kepada mereka bahwa kami memang tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun kecuali bergantung hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika segala sesuatu sesuai seperti yang diharapkan itu pun berkat rahmat dan hidayahNya jua. Aku pun tidak lupa bahwa mereka dapat kapan saja menghubungi kami jika di lain waktu mereka membutuhkan sesuatu dan memang menjadi perkenanNya. Kami akan menjaga kekuatan demi membela kebenaran dan keadilan bagi siapa saja yang membutuhkan di masa yang akan dating.
            Setelah sambutan itu kami menghaturkan penghormatan kepada para raja, namun mereka menolaknya, melainkan merangkul kami satu-persatu secara bergantian. Hal inilah yang membuat aku dan ketiga mitraku menjadi terharu atas kehormatan sangat besar ini. Sangat jarang sekali, para raja yang sangat dihormati dan disegani, rela berpeluk-rangkul dengan orang yang tidak sederajat dengan mereka, tapi mereka mencontohkan lain. Mereka seolah ingin menyatakan bahwa derajat manusia di mana pun sama di mata Tuhannya, kecuali tingkat kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Raja Aribi Dilwiba mengajak para raja dan kami menuruni panggung singgasana untuk langsung memberikan jabatan tangan kepada para punggawa dan pembesar istana yang masih tetap setia pada raja mereka masing-masing baik dalam suka maupun duka. Tentu saja, hal ini menjadi momen berharga bagi mereka betapa nilai kekeluargaan semakin erat terjalin demi profesionalisme kinerja kerajaan yang sangat tinggi. Setelah usai, kami beramah tamah sambil menikmati hidangan hingga waktu perpisahan yang sesungguhnya pun terpaksa memisahkan kami.
            Aku dan ketiga mitraku berjalan diiringi Raja Aribi Dilwiba, Rasyugusti Putrajihansa, para raja, Jenderal Zargi diiringi oleh para perwira tingginya termasuk Kapten Rayzor nan gagah dan berani, Profesor Cherpantulas dan para asistennya termasuk Dr. Biodenti nan elok dan cantik itu, dan para punggawa serta pembesar istana menuju kabin transformasi yang akan menghantarkan kami kembali di dunia. Dalam perjalanan ke sana, Raja Aribi Dilwiba sempat berpesan bahwa kekuatan eXtremePower Riders atau XPR yang kami jaga, meskipun didapatkan melalui teknologi mereka, namun hakikatnya itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku pun berjanji untuk menjaga dan menggunakannya demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi siapa pun yang membutuhkannya. Sang raja nan arif, bijaksanan, adil, dan berwibawa ini memperlambat langkahnya secara perlahan menuju ke kabin itu seolah-olah ia tak ingin berpisah dari kami dan ingin kami bisa tinggal bersama mereka lebih lama lagi, atau kami menetap menjadi penduduk alam ini. Sempat dalam suatu perbincangan suatu kali ia hendak mewariskan tahta istana dan kerajaannya kepadaku bila ia telah wafat nanti, tidak kepada pewaris keluarganya. Menurutnya, aku merupakan tipe yang lebih cocok dan sesuai sebagai seorang pewaris kerajaannya ini. Saat itu, aku hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai keramahtamahan seorang raja yang cukup kukagumi ini. Aku mengomentarinya dengan menyatakan bahwa masih ada pewaris atau calon lain yang lebih berhak untuk itu. Dan ia pun hanya tersenyum dan manggut-manggut beberapa kali, tanda mengerti apa maksud kata-kataku itu. Tapi, kini ia mengungkapkannya lagi tanpa segan-segan dan sungkan, karena menurutnya lagi ia menganggap aku sudah seperti puteranya sendiri.
            Tak kami sadari, kami sudah berada di kabin itu, dan segala sesuatunya telah dipersiapkan untuk keberangkatan kami pulang kembali ke alam dunia. Inilah detik-detik yang sangat menegangkan dan sekaligus mengharukan. Betapa sesungguhnya ia, Raja Aribi Dilwiba dari Kerajaan Gemrilozie, pemimpin yang memiliki wilayah kerajaan yang gemah ripah loh jinawi cukup luas di berbagai kawasan kerajaan di alam ini sangat berat dengan perpisahan ini seolah-olah menjadi perpisahan terakhir dan tak akan bertemu kembali. Aku meyakinkannya bahwa kapan saja ia membutuhkan ia dapat dengan mudah menghubungi kami kapan saja. Setelah ia telah menerima kenyataan ini barulah ia merasa lebih tenang dan melepas kepergian kami. Kulihat para raja dan rombongan di luar kabin transformasi melambaikan tangan mereka sambil terisak menahan tangis, kecuali airmata mereka yang tak kuat dibendung karena kesedihan dan kepiluan ini. Kami melambaikan tangan kepada mereka. Kulihat semua tersenyum dan mulai menangisi kepergian kami. Tidak terkecuali pada Jenderal Zargi yang berperawakan sangat kekar dan wajah simpatiknya, dan Kapten Rayzor yang memiliki kenangan tersendiri bersamaku dan Dr. Biodenti saat di goa persembunyian itu. Profesor Cherpantulas dan para asistennya termasuk Dr. Biodenti hampir tak bisa berkosentrasi penuh saat mulai melakukan penyensoran dan pengkodean sistem secara bersama-sama. Sang asisten tersebut dengan pipi dibasahi tetesan airmata menatapku dengan senyuman istimewa dan pandangan tertentu di wajahnya yang tak kumengerti maknanya. Saat mereka selesai dan detik-detik pentransformasian tersebut, mereka pun ikut melambaikan tangannya yang terakhir.
Aku dan ketiga ksatria yang masih bertubuh kekar mulai bersiaga setelah selubung cahaya melingkupi kami. Perlahan bayangan mereka mulai menghilang, dan suasana di dalam selubung ini persis sama ketika aku pertama kali memasukinya beberapa waktu yang lalu. Bedanya waktu itu aku dalam kondisi ketakutan dan ketidakmengertian tentang ini semua. Setelah pergerakan kami semakin lama semakin cepat, dan perlahan tubuhku mulai berubah ke kondisi semula layaknya seorang anak kecil kembali. Aku perhatikan satu-persatu diriku; kedua tangan dan jemarinya, perut dan kedua kakiku kini telah berubah dan bajuku sama seperti yang dulu awal kukenakan. Tapi, di tanganku kini tergenggam kembali alat itu, XPR, yang mampu merubah segalanya tentang diriku dengan semua petualangan yang terjadi dan kualami, bahkan dengan papa dan kedua kakakku. Aku perhatikan lagi sekelilingku kepada kakak-kakakku, Aa Kemal dan Kak Nandya mereka pun telah kembali ke wujud semula dengan pakaian terakhir yang mereka kenakan dulu saat mereka bangun dari tidur mereka. Begitu juga, hal ini terjadi dengan papa. Ia nampak kembali ke wujudnya semula dengan tubuh yang kurus dan tidak begitu tinggi. Kami lalu saling berangkulan dan merasa seolah-olah ini seperti mimpi saja selama ini. Cukup lama kami berpelukan melepaskan rasa kerinduan atas perasaan kehilangan waktu itu. Kami tak berkata apa-apa, kecuali rasa syukur. Dan saat itu kuperlihatkan XPR itu kepada mereka. Lalu mereka meminta aku menjaga alat itu baik-baik dan menyuruhku memasukkan ke dalam saku celanaku. Dan tanpa kami sadari…….
Kami telah berada di sebuah sudut sebuah ruangan yang telah jauh berbeda dari pertama kali kami masuki beberapa hari yang lalu.
Sungguh kami masih terpaku dengan pemandangan ruangan tempat kami tiba ini dengan beberapa kursi dan sebuah meja cukup besar di tengahnya. Namun tak ada siapa-siapa di sana. Kosong dan sepi. Kami merasa heran dan berkeliling di sekitar ruangan mencari-cari petunjuk di mana keberadaan kami saat ini. Aku menuju pintu itu. Tapi masih ragu…..
“Ga, tunggu sebentar. Dea, Kemal ke mari. Semua duduk dulu,” kata papa meminta kami menempati kursi yang ada di ruang ini.
“Enaknya kita jawab apa kalo mama tanya tentang kepergian kita selama beberapa waktu yang lalu?” Tanyanya lagi kepada kami meminta persetujuan.
“Ya udah ceritain aja apa adanya, pah….” ujar Kak Dea menjawab pertanyaan papa.
“Iya, jawab aja yang kita alamin,” timpal Aa Kemal menyetujui saran Kak Dea.
“Menurut Aga, kita simpen aja ini menjadi rahasia kita beberapa hari atau minggu. Kalo perlu diceritain, kita cerita…… kalo enggak, ya kita jadiin rahasia kita aja selamanya,” ungkapku kepada mereka bertiga.
“Ya, tepat banget, papa setuju dengan saran Aga, adikmu. Lagian kita telah berjanji untuk tetap menjalankan misi menjaga kebenaran dan keadilan itu,” ungkap papa lagi menyetujuiku dan menambahkan dengan alasan logis.
Akhirnya, kami semua sepakat seperti itu. Melanjutkan pencarian hingga kami putuskan keluar lewat pintu itu dengan hati-hati. Namun, begitu pintu kami buka perlahan sedikit demi sedikit…….  Susana telah berubah. Rumah yang kosong, kecuali meja dan kursi tamu dan beberapa perabotan lain.
Dengan berbaris dan berjalan hati-hati seperti orang yang sedang mengendap-endap, papa memimpin di depan kami berjalan. Masih tak ada siapa-siapa, dan semua ruangan yang telah berubah jauh ini menjadi kosong. Kami tidak menemukan mama di mana pun, tidak juga di kamar tidur. Tapi ke mana? Papa tiba-tiba memanggil kami setengah berteriak dan menunjuk ke sebuah dinding. Sebuah kalender. Kami terkejut sekali mengetahui bahwa saat ini kalender menunjukkan tahun dua ribu dua puluh satu!!!
Dengan penuh keheranan dan ketakmengertian, kami berempat dan rasa kantuk yang mulai menyerang kami, masing-masing beranjak ke beberapa deretan sofa di sebuah ruangan untuk duduk menyandarkan punggung. Kulihat papa, Kak Dea, Aa Kemal mengambil posisi sofa yang nyaman untuk mereka tempati. Dan aku pun mencari sofaku dekat papa, dan tak terasa lagi setelah beberapa lama, jatuh tertidur. Tak ingat apa-apa lagi, kecuali satu mimpi indahku ke mimpi berikutnya……..  sebagai XPR.
           
“Mana seorang hamba yang Aku ketahui hatinya, maka Aku lihat, hatinya banyak bergantung untuk mengingat Aku, maka Akulah yang mengendalikan siasatnya, Akulah teman duduknya. Aku orang yang memberitahunya dan Akulah yang menggembirakannya.” (Firman Tuhan)
tHe eNd



Prolog Daftar Isi Fatsal 1 Fatsal 2 Fatsal 3 Fatsal 4 Fatsal 5 Fatsal 6
Fatsal 7 Fatsal 8 Fatsal 9 Fatsal 10 Fatsal 11 Fatsal 12 Fatsal 13 Fatsal 14
Fatsal 15 Fatsal 16 Fatsal 17 Fatsal 18 Fatsal 19 Fatsal 20 Fatsal 21 Fatsal 22
Fatsal 23

Fatsal 22 Mengalahkan Nafsu adalah Kemenanganku



Fatsal 22 Mengalahkan Nafsu adalah Kemenanganku

            Sebelum perjalanan pulang kembali ke Kerajaan Gemrilozie atas keberhasilan menyelesaikan misi tersebut, para ksatria diundang oleh Raja Ansiabia Kejnat untuk mengadakan pertemuan besar sangat istimewa. Pada kesempatan itu, sang raja mengajak mereka ke ruang kabin-kabin yang dirubah menjadi kabin sangat besar dan luas. Karena ia telah menitahkan seluruh punggawa dan pembesar istana mengerjakannya saat itu juga. Kabin tersebut dikhususkan untuk menjamu para ksatria dan seluruh undangan, termasuk seluruh rakyat jelata tanpa kecuali, sebagai tamu kehormatan sang raja untuk yang terakhir kalinya.
Di kabin raksasa itu, ia juga hendak mengisahkan pengalaman pribadinya kepda khalayak. Seluruh undangan dari belahan dunia lain pun turut diundangnya. Ia juga hendak menyampaikan kepada segenap keluarga besarnya, dan para petinggi istana bahwa sejak saat itu, titah raja menjadi kali terakhir tehadap mereka. Meskipun pada akhirnya mereka menjalankan titah itu dengan berbagai macam pertanyaan yang tak dapat dimengerti maksud kata-katanya, mereka laksanakan juga dengan sangat cepat dan kilat.
Beberapa saat kemudian berdatangan segenap undangan dari berbagai kalangan, pun termasuk rakyat jelata berduyun-duyun menghadiri sebuah acara mercusuar. Acara itu pun langsung dimulai, namun berbagai hal sudah sangat berbeda dengan acara-acara khusus yang biasa dihadiri para pembesar itu sebelumnya.
Tiba pada giliran sambutan sang raja, para hadirin sungguh-sungguh terbelalak matanya dengan mulut menganga seolah-olah tak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan. Sang raja yang dulunya begitu sangat membangga-banggakan dirinya, kini ia hanya mengenakan pakaian yang sangat sederhana bagaikan seorang rakyat jelata pada umumnya. Hal ini melebihi bahkan melebihi keterkejutan mereka melihat atmosfir acara yang tidak seperti biasanya. Kemunculannya dari balik kabin sendirian menuju singgasana yang sebelumnya dibuat sangat mewah dan eksotis, tidak menampakkan dirinya kecil dan tak berharga. Tanpa para pengawal, tanpa orang-orang terkuat pilihan dan tanpa embel-embel apa pun yang selalu melekat pada dirinya. Sebaliknya ia berdiri dengan wajah bersinar, berwibawa dan mulia dengan sorot mata lembut dan senyum tulus mengembang.
“Wahai saudara-saudaraku…….. salam sejahtera dan keselamatan selalu untuk kalian,” begitu salam pertama kali ia membuka kalimatnya yang lembut, ramah, dan sopan.
Tentu saja ini merupakan hal yang sangat ganjil bagi seorang raja yang dahulunya terkenal lalim, beringas, kejam dan segala sebutan  miring pada dirinya.
“Aku……hendak menyampaikan berita penting bagia kalian semua….. Aku akan melepaskan seluruh gelar kerajaan yang pernah kusandang sebelumnya…… Mulai detik ini, aku sudah bukan lagi menjadi raja kalian. Dan….aku telah memilih jalan hidupku sebagai seorang rakyat biasa,” umumnya dengan kata-kata tulus dan mantap dan tak terlihat keraguan.
Seluruh hadirin berubah menjadi tambah tak mengerti atas ungkapan yang tak akan bisa dimengerti itu.
“…….sebuah sejarah hidup telah sangat menggugah dan berhasil menyadarkanku, akan arti dan makna keterbatasanku sebagai seorang manusia. Ini telah kutekadkan saat kisah ini kualami langsung tepat sesaat acara kita ini dilaksanakan,” paparnya lagi dengan menceritakan bagaimana kisah dirinya saat berada di tempayan besi panas tak berdaya yang seharusnya memanggang dirinya hidup-hidup, tapi kenyataan berkata lain, ia malah menggigil kedinginan. Itu semua dikarenakan ia mencoba berubah meyakini kalimat yang diberikan seorang ksatria dan mengucapkannya terus-menerus.
Tentu saja, kisah raja ini menjadi sebuah fenomena keimanan dan keyakinan bagi seseorang semakin bertambah kuat dan tebal. Dan, kisah raja inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah jawaban atas berbagai pertanyaan yang sebelumnya menggelayuti pikiran mereka.
“Aku menghaturkan terima kasih kepada para ksatria, khususnya Ksatria Aga, Sang Penyelamat dari Kerajaan Gemrilozie, yang telah mengajarkan sebuah kebenaran hakiki kepadaku. Maka, sejak saat ini…….aku akan abdikan hidupku, jiwa dan ragaku kepada kebenaran itu……kepada keadilan, dan…….kepada jalan Tuhan. Selanjutnya, aku serahkan kerajaan ini kepada siapa pun yang mampu dan sanggup menjalankan dan menjaga nilai-nilai kebenaran dan keadilan Tuhan. Siapa pun yang terpilih sebagai raja nantinya untuk tidak lupa mengembalikan seluruh potensi wilayah kerajaan-kerajaan lain, merehabilitasi dan membangunnya kembali,” sambutnya dengan nada sendu yang disambut para hadirin dengan tepuk tangan meriah dan keharuan dan isak tangis.
Seluruh undangan yang hadir mendengar kisah raja ini bertambah haru dan mulai meneteskan airmata kebahagiaan dan kesukacitaan, karena ia telah berhasil merubah dirinya menjadi manusia yang mengarah kepada kesempurnaan.
“Sebagai penutup kata-kataku…..aku menghaturkan permohonan maaf……dan ampun atas segala kesalahan dan dosaku kepada kalian sebagai masyarakat kerajaan ini. Aku sangat berharap kalian sudi menerima permohonanku yang terakhir ini,” pintanya kepada seluruh undangan.
Mendengar kalimat terakhir ini, spontan seluruh rakyat yang hadir tanpa terkecuali menangis dengan sedu-sedan dengan kata-katanya yang sangat tulus dan tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebelum raja meninggalkan podium istana dan kerajaanya, ia memperkenalkan para skatria satu-persatu di podium itu. Lalu ia pamit kepada seluruh keluarganya untuk menjalani kehidupan barunya sebagai rakyat biasa. Seluruh keluarga istana termasuk permaisuri dan para putera-puteri pewaris tahta kerajaana para pembesar, dan rakyat jelata tentu saja kaget dan tersentak mengetahui kenyataan ini. Namun, mereka tak dapat menolak dan mencegahnya, sehingga dengan sangat berat hati mereka melepas kepergiannya dan para ksatria dengan isak-tangis membahana dan keharuan yang sangat mendalam. Apalagi dengan kedua perwira yang tersisa dalam pertarungan maut yang kini menjadi saksi hidup, Letnan Drago dan letnan Bondi, menjadi terisak. Lambaian tangan pun tak henti-hentinya mereka lepaskan, bahkan hingga pesawat yang membawa mereka jauh tak terlihat lagi. Langit di kerajaan itu pun mulai mendung seolah-olah turut bersedih menyaksikan keharuan di siang itu.
Sementara di ruang rahasia raksasa bawah tanah istana Kerajaan Gemrilozie jauh di kedalaman sana, para raja dan pembesar berbagai istana kerajaan terus menonton dan menyaksikan setiap kejadian demi kejadian, mulai dari pertarungan-pertarungan itu hingga perpisahan terakhir yang mengharukan. Mereka benar-benar merasa seperti disajikan berbagai macam perasaan; khawatir, takut, gembira, sedih, senang, bangga, hingga perasaan bersyukur menjadi satu, saat para ksatria mulai bertempur hingga kepulangan mereka bersama mantan raja itu. Segala perasaan yang bercampur-aduk, namun berakhir bahagia.
Para raja dan pembesar berbagai kerajaan itu mengetahui bahwa sebentar lagi pesawat Ksatria Aga dan ketiga mitranya serta mantan raja dalam beberapa saat ke depan tiba di kabin rahasia ini. Untuk itu, mereka telah memepersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut secara layak rombongan ini. Kemeriahan dalam kesederhanaan di kabin besar itu tidak menyurutkan semangat para raja, meskipun mereka berstatus raja atau pembesar. Kehidupan di tahanan Kerajaan Tucapenbath-lah yang menjadikan mereka ‘ngeh’ betapa susah dan pedihnya kehidupan sebagai rakyat biasa, apalagi orang tahanan. Hal itu yang  membuat mereka bertekad untuk menjalankan roda istana dan membangun kerajaan mereka bersama rakyat masing-masing dengan arif, bijaksanan, kerja keras, bertakua, adil, dan merata nantinya. Dan itu bukan lagi sebagai slogan atau semboyan semata. Sebaliknya sejak saat itu mereka bersungguh-sungguh tidak akan berlaku sombong, semena-mena, mentang-mentang, khianat, egois, tebang-pilih, santai, masa-bodoh, memeras, egois, dan sifat-sifat tak terpuji lainnya sebagai seorang raja, punggawa atau pembesar istana kerajaan. Menjalani kehidupan seperti di tahanan itulah yang membuat mereka mengerti arti dan makna hidup, dan merasa hidup. Di sanalah juga mereka benar-benar hidup ‘sendirian’ tanpa keluarga atau teman yang membantu hidup, kecuali Tuhan Tempat bergantung. Mereka berpikir seperti itulah kira-kira kehidupan si rakyat miskin menjalaninya. Jika dipahamai lebih jauh, ternyata benarlah bahwa Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.
Di lain tempat, pada puing-puing Kerajaan Gemrilozie kini sudah tak ada lagi patroli pasukan tentara pada beberapa menit yang lalu masih berjaga-jaga, berjalan, berkeliling, dan berputar-putar. Kini sepi dan lengang. Tidak juga terlihat para pekerja paksa berjalan terengah-engah dan tertatih-tatih dibandul batu besi bulat besar dengan rantai di kedua kaki mereka sambil mengangkat batu besar di pundak sambil dihunus senjata bila mereka terjatuh dan terjerembab. Pemandangan itu sudah tak telihat lagi, bahkan sejak kami melintasi berbagai wilayah kerajaan yang sebelumnya dicaplok oleh Kerajaan Tucapenbath.
Aku melihat pada radar pesawat kami bahwa dari kejauhan terdeteksi berbagai jenis pesawat besar berpenumpang menyebar ke berbagai penjuru mata angin. Aku yakin itu adalah sejumlah besar pasukan Kerajaan Tucapenbath mulai mengerahkan para tentara mereka untuk membangun kembali negeri yang telah mereka porak-porandakan. Aku pun merasa bersyukur permohonan terakhir Raja Ansiabia Kejnat sungguh-sungguh dilaksanakan, meskipun ia telah turun tahta dengan segala kebesaran jiwanya. Namun, pada akhirnya ia telah mewariskan teladan terbaik kepada para penerusnya.
Dalam perjalanan kami tadi, beberapa kali memang sang raja itu terus meneteskan airmata di pipinya, karena melihat berbagai dimensi kehancuran dan kerusakan akibat ulahnya beberapa waktu lalu. Ia semakin sadar bahwa penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan berdampak kehancuran besar bagi umat manusia. Perasaan inilah yang semakin membuat hati dan sanubarinya sangat hancur menjerit mengingat apa yang telah ia lakukan terhadap mereka. Ia merasa bukan lagi sebagai anak manusia bagi Penciptanya, karena telah berlaku sebagai seorang penjahat perang. Bahkan kini dirinya telah menjadi seorang teroris yang sangat tega menakut-nakuti, mengancam, mencelakakan, dan membunuh orang tak bersalah dan tak berdosa demi sebuah keinginan pribadi atau kerajaannya. Itulah yang semakin membuatnya kini merasa sebagai seorang hakim terpidana yang kejam dan terlaknat.
Kulihat pula suatu kali sewaktu di pesawat tadi, ia beberapa kali menarik nafas berat dan panjang seolah-olah terlalu banyak dan beratnya beban yang ia derita kini. Sesekali ia terlihat juga mengerutkan dahi sambil melongok ke luar jendela pesawat kami bagaikan tak akan pernah percaya dengan segala kehancuran yang berkali-kali ia kerap lakukan. Ia memang sedang menanggung beban berat atas semua ulahnya itu. Ulah yang pernah ia titahkan kepada para komandan pasukan tentaranya.
Jika memikirkan dan mengenang itu semua ia merasa memang pantas mati. Tapi……ksatria itu malah memberi peluang sebuah keselamatan kepadanya. Sang ksatria itu berbudi luhur sekali. Pantaslah ia mewakili Kerajaan Gemrilozie yang sangat besar dan kerajaan-kerajaan lain yang pernah ia taklukkan. Ia memang memiliki kekautan itu, mampu menyelamatkan para raja dan pembesar istana yang ia masukkan ke dalam tahanan.
“Bahkan, ia pun memilih untuk memberi peluang untuk menyelamatkanku,” kenangnya dalam batin teringat ia diberi petunjuk untuk mengucapkan kalimat Tuhan itu.
Sungguh pantas jika Ksatria Aga memang menyandang gelar Ksatria Penyelamat.
       Setelah pesawat benar-benar telah masuk ke lorong menuju hanggar di kabin rahasia Kerajaan Gemrilozie, kulihat sang raja agak terkejut mengetahui hal ini. Namun terlihat sangat pandai menyimpannya. Setelah kumatikan mesin pesawat dan kami keluar, beberapa baris tentara pengawal bersenjata lengkap dari tadi menunggu, memberi sambutan penghormatan secara militer kepada kami. Lalu mereka membimbing kami menuju kabin berkumpulnya para raja dan pembesar di sana.

Prolog Daftar Isi Fatsal 1 Fatsal 2 Fatsal 3 Fatsal 4 Fatsal 5 Fatsal 6
Fatsal 7 Fatsal 8 Fatsal 9 Fatsal 10 Fatsal 11 Fatsal 12 Fatsal 13 Fatsal 14
Fatsal 15 Fatsal 16 Fatsal 17 Fatsal 18 Fatsal 19 Fatsal 20 Fatsal 21 Fatsal 22
Fatsal 23